Today is August 10th, 2026; the second week of August 2026. And here I am at the Co-Working Space IKOMA ITS, writing this post to archive the fragile memories that I possess. I'm feeling so tired for reason that I don't even know. I used to think that I would just do something productive during my session here, yet I couldn't even let my mind focus. How much sorrow can I take? Black bird on my shoulder, I remind myself, whose Genius page describes:

The common blackbird (T. merula) is native to Europe, Asia, and North Africa, and has many cultural associations. Greek folklore takes the blackbird to be a sacred creature, albeit with its own destructive tendencies. Unlike other black creatures, there aren’t any connotations of bad luck with it.

In literature, the black has been used to signify resignation, and vigilance (due to its loud cry in situations of danger.) 

In “Ghost Spots”, the novel’s last chapter, Elio arrives back in B to the sight of a waiting Anchise. To Elio, it felt as if summer had only begun, and he notices everything that reminded him of summer at the train station:

I stood for a moment under the dried wooden cantilever. The whole place, including the boarded hut, exuded a strong odor of petrol, tar, chipped paint, and piss.

And as always: blackbirds, pine trees, cicadas.

Summer.

Though there is no traditional four-season summer division (spring, summer, autumn/fall, and winter) in Indonesia, I often imaginatively replace the summer part as the dry season, as the common seasonal division often used is consisting of two primary periods: the dry season and the rainy or wet season.


Eight days after

 Oke, baik, segitu saja papañca-nya. Aku sampai lupa arah dari tulisan ini. Sejujurnya, tulisan ini memang tidak pernah punya arah yang jelas sejak awal. Sekarang, aku sudah tidak berada di CCWS. Aku duduk di atas tempat tidurku, pukul 23.41. Ada banyak hal yang kupikirkan dan kurasa perlu dituangkan dalam tulisan, dan inilah saatnya.

Aku membaca ulang judul dari postingan ini, lalu aku memikirkan kembsli banyak hal terkait fase kehidupan: usia tua, sakit, dan mati; dan fase-fase di antaranya. Setiap fase diselingi oleh peralihan, dan di setiap peralihan muncul sendi-sendi kekhawatiran baru, atau yang itu-itu saja tetapi berulang.

Mama baru saja menelepon tadi, menanyai kabarku dan langkah-langkah yang seharusnya kuambil. Aku terdiam. Entah apa yang salah denganku belakangan ini, bahkan sejak sebelum sidang Tugas Akhir. Kilas balik, entah apa yang kulalui selama hari-hari itu, yang kemudian menjadikanku sangat tidak bertanggung jawab atas waktuku sendiri. Aku sadar bahwa kecenderungan ini sudah ada bahkan sejak aku masih menduduki masa sekolah, renungku. Namun, belakangan ini, kecenderungan ini muncul dengan intensitas yang kian memuncak.

Per hari ini, 17 Agustus 2026, usiaku sudah di angka 24. Kalau kata orang-orang, usia 25 adalah titik pemastian ("fully develop") berbagai bagian otakku.

The prefrontal cortex is the last part of the brain to fully develop. While older studies suggested maturation stops around age 25, recent large-scale neuroscience tracking shows that brain structural reorganization and network refinement continue actively into the early 30s (around age 32) before stabilizing into full adulthood.

Aku rasa, justru prefrontal cortexku hancur lebur. Aku sulit memastikan keputusanku sendiri, juga sulit memiliki suatu pendirian tetap. Ini terjadi di banyak ranah, bukan hanya ranah-ranah fisis, tetapi juga ranah-ranah psikis. Entah, menurutku, sulit mengambil suatu pendirian given the complexity of the world. Link di tulisan barusan itu kuletakkan di sana setelah aku stalking blog-ku sendiri. Air mataku turun. Di kala pencarian atas link tersebut, aku jadi membuka catatan-catatan lama. Apa yang hendak kubahas, perasaanku saat ini, sangat resonate dengan postingan tahun 2022 ini.


Transisi, lagi?

Benar, ini lagi-lagi soal transisi. Sebelumnya, aku sudah berhasil melampaui masa SMP, SMA, hingga perkuliahan. Aku tiba-tiba juga teringat atas segala pencapaianku. Pada masa SMA, aku lulus sebagai salah satu lulusan terbaik, dan peringkat 1 berturut-turut selama tiga tahun. Pada masa kuliah, yang mana baru diumumkan belakangan ini, aku juga berhasil dapat predikat cum laude dengan IPK sekitar 3.7+. Di sini sekarang, aku bertanya-tanya kepada diriku srndiri, "Setelah ini, lalu apa?"

Aku kilas balik jauh ke belakang. Ketika aku baru memasuki bangku perkuliahan, semangatku kian menggebu-gebu. Aku mengikuti banyak kegiatan, aku menjadi versi diriku yang semangat menjalani hidup dengan segala impian-impiannya, segala mimpi-mimpinya. Sekarang, aku di sini, menulis ini dengan hati yang hampa beserta derasnya air mata.

Lagi, persis seperti tahun 2022, aku bingung. Aku mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya aku maknai. Prestasi? Nilai? Ini semua terasa hampa. Jauh lebih baik mengingat joy yang dirasakan pasca-retret meditasi. Perihal retret tersebut, aku jadi kembali membuka menu postingan, lalu menemukan draf di blog ini, yang tidak pernah sempat kuterbitkan:

Di postingan ini, aku mau membahas terkait pengalamanku mengikuti retreat meditasi vipassanā lebih dari 3 tahun lalu, tepatnya pada Januari 2023. Sebetulnya kisahnya sudah cukup lama, alhasil ketidakakuratan yang hadir mohon dimaklumi. Aku memutuskan untuk merekam memoriku di sini karena jika tidak pernah terdokumentasikan, bisa-bisa aku lupa selamanya bahwa pengalaman seindah itu sempat mampir di hidupku. Singkat cerita, sebagai sinopsis awal, aku mengikuti sebuah retreat, yakni masa menginap sekian hari yang didedikasikan secara khusus untuk "menepi, menarik diri sejenak" dari rutinitas kehidupan sehari-hari. Istilah ini umum di kalangan berbagai tradisi spiritual. Namun begitu, fokusku di sini adalah mengingat-ingat rekaman memoriku terkait penepianku selama sepuluh hari dalam tradisi yang diliputi nilai-nilai Theravāda secara mendasar. Lagi, kuingatkan, aku sudah cukup lupa dengan rincian-rincian yang sudah tidak terekam lagi, tetapi akan kuusahakan agar sisa-sisa memori yang masih ada dapat kutuliskan.

Nuansa dasar
Sebelum memasuki cerita, ada baiknya aku menjelaskan term yang digunakan terlebih dahulu untuk mempermudah penggambaran ceritaku. Pertama, penting dicatat bahwa kegiatan retreat dalam konteks ini tidak bernuansa agamis pada umumnya. Ditekankan bahwa sudut pandang Theravāda tidak menekankan model kepercayaan bermodel monoteisme dan turunan kepercayaannya. Dalam retreat meditasi tradisi ini, tidak pernah ada intensi apa pun yang berkaitan dengan ajaran terkait "berserah kepada Tuhan" dan/atau "mendekatkan diri kepada Tuhan". Pendekatan spiritual dalam tradisi keagamaan yang sudah aku sebutkan tadi jauh dari konsep-konsep semacam itu. Dalam retreat yang akan kubahas, yang ditekankan adalah untuk menyadari realitas sebagaimana adanya, untuk menyadari ketidakkekalan, penderitaan (suffering), dan ketiadaan "aku" yang kekal; atau secara teknis umum disebut sebagai anicca dukkha anattā.

Pemutusan awal
Aku memulai cerita ini dari masa-masa awal aku menemukan link untuk mendaftar. Seperti yang bisa dibaca pada postingan tentang apa yang kumaknai dalam hidup (2022), di sana aku mencoba memikirkan tentang apa yang sebenarnya kumaknai dalam hidup. Salah satu poin yang dibahas di sana adalah terkait pelatihan batiniah sebagai suatu kebajikan yang perlu dilakukan (mengacu pada nilai-nilai yang kucoba terapkan dalam kehidupan), yang dalam hal ini mengarah pada meditasi dalam tradisi yang sudah dijelaskan di bagian sebelumnya. Aku tidak ingat secara persis proses yang kulalui sampai menemukan link pendaftarannya, tetapi suatu hari aku sedang menjelajah internet dengan Google, lalu aku menemukan situs web dhamma.org di sana. Akan tetapi, pertemuanku yang pertama tidak mengajakku untuk mendaftar lebih lanjut. Pada berbagai kesempatan setelahnya, setelah sudah mengetahui apa yang ditawarkan, aku baru memutuskan bahwa aku ingin sekali mengikuti retreat yang dibahas di situs web tersebut. Singkat cerita, suatu hari, di masa liburan kuliah Semester 2, aku memberanikan diri untuk benar-benar mendaftar. Pertimbangan lainnya adalah bahwa tempat diadakannya retreat tidak begitu jauh dari tempat kediamanku.

Kehadiran dan keraguan
..sdgks

Titik nafas di area hidung
akajksa

Serangga-serangga berjalan-jalan
dgsd

Dari ubun-ubun ke ujung jari kaki
aifsf

Body-scanning dua arah
b fgb

Dari teori ke praktik
konsep-konsep parami, upekkha, anicca

Teknik meditasi cinta kasih
dv dfvd

Pasca-retreat, kecoa, dan reaktivitas
...as

Tulisan yang tidak selesai itu, dengan segala ketikan anehnya, mengingatkanku akan sesuatu yang sungguh indah, sesuatu yang kurasa sebagai something that I'm looking for. Namun demikian, saat ini pun, aku tidak bisa benar-benar yakin. Aku rindu kenaifanku saat itu.

Terkait waktu dan korteks prafrontalku, entah apa yang membuat hidupku hancur belakangan ini. Kamarku tidak kunjung kurapikan, kalut dalam kekacauan susunan barang-barang yang entah akan kuapakan. Bahkan saat sedang mengetik ini, sesekali kepalaku menelusuri ruangan ini, dari kiri ke kanan, untuk melihat barang-barang yang berserakan entah mengapa. Kurasa, aku masih belum pulih, dan itulah mengapa urgensi untuk menulis ini, untuk menuangkan apa yang sebenarnya aku pikirkan menjadi lebih tinggi (jika diibaratkan sebagai suatu variabel terukur).


Tiga tanda ilahi

Kembali ke usiaku, ya aku sudah tua. Soal penyakit? Ya, aku melalui banyak penyakit. Bahkan saat ini, aku sedanng menderita penyakit entah apa. Mataku perih, dan setiap bangun tidur, kotoran-kotoran mataku mengeras dan membuatnya semakin sakit. Penglihatanku turut memburam. Besok juga, ada pemeriksaan penyakit tertentu yang akan kujalani terkait ini. Tidak banyak yang kuceritakan soal ini semua, dan aku rasa aku tidak perlu menceritakannya kepada khalayak ramai juga. Dua poin sudah kurenungi, lalu yang terakhir adalah death. Aku teringat temanku yang belum lama meninggal dunia. Melihat fotonya pun aku sedih, terlebih ketika sedang melihat-lihat kembali arsip Instagramku. Betapa fragile-nya dunia ini, bahwa kita tidak benar-benar berkendali.

Aku tiba-tiba teringat beberapa minggu kemarin ketika aku menyaksikan banyak penderitaan di rumah sakit. Penderitaan oleh mereka yang sakit, ketika aku tidak sakit apa-apa dan hanya menemani temanku yang sakit. Aku melihat mereka yang tua renta, menunggu selesainya pengurusan obat mereka yang sungguh memakan waktu lama. Sejak pengambilan nomor antrean pertama, nomor pendaftaran, pemeriksaan, dan seterusnya. Duka yang berlapis, duka yang berlapis, di mana-mana. Bagiku, ini terlihat seperti saṁveggacitta yang dirasakan oleh Buddha Gotama terkait tiga peristiwa penting, yang konon dikatakan sebagai "pertanda ilahi", yang sebenarnya tentu ini ada di kitab komentar dan beberapa pendapat menyatakan bahwa sebenarnya itu kisah dari Buddha lain. Namun demikian, aku tidak mau memikirkannya serinci itu. Aku tidak mau ambil pusing untuk sekarang ini, mengingat aku juga pernah membahas ini semua. Masalah kitab, ini-itu, dan lain sebagainya.


Mekanisme koping

Belakangan, mekanisme kopingku tidak berjalan dengan baik. Aku, yang seharusnya hanya tinggal menjalani mekanisme tersebut, malah bertindak seolah-olah aku adalah seorang scholar, seorang cendekiawan, yang turut pusing memikirkan segala penafsiran atas mekanismenya, dan seterusnya. Dari lubuh hati yang terdalam, aku meyakini Dhamma, sebagai mekanisme kopingku. Aku meyakini bahwa Dhamma adalah kebenaran. Akan tetapi, begitu juga oranag-orang lain dengan keyakinan mereka masing-masing. Meskipun keseharianku sering kali tidak selaras Dhamma, aku tetap meyakininya, dan demikianlah itu menjadi mekanisme kopingku. 

Belakangan, aku semakin pusing. Aku pikir, agama itu tidak serumit itu. Namun demikian, semakin mendalaminya, semakin rumit lagi. Aku sempat berpikir untuk eksplorasi agama-agama lain, dan mencoba memutuskan apakah aku perlu mengubah agamaku sebagai mekanisme koping yang baru, tetapi kemudian aku tersadar bahwa setiap tradisi agama-agama besar dunia juga memiliki kerumitannya masing-masing, terutama terkait urusan-urusan atau hal-ihwal kitabiah, yang di dalamnya termasuk urusan-urusan penafsiran teknis dan semacamnya. Aku turut memikirkan untuk menjadi seorang ateis atau agnostik, pun di tubuh sains sendiri juga banyak perdebatan. Ambil satu bidang sains apa pun itu, dan jangan kaget kalau di dalamnya para ilmuwan ternama berprestasi, yang berasal dari kampus-kampus top dunia, juga turut berdebat tanpa akhir satu sama lain. Mungkin beginilah samsara, duka berlapis, duka atas obsesi pikiran, duka atas proliferasi pikiran, duka atas perkembangan pikiran, duka atas papañca.

Bahkan beberapa minggu ini, jika belum masuk dalamm hitungan bulan (sebagaimana disepakati dalam satuan masa kini), aku juga cukup jarang beribadah, dalam arti praktik dāna, sīla, samādhi, Ketiganya banyak bolongnya, dan ini pun menambah beban pikiranku. Aku semakin stres atas penyesalanku, atas kukkucca-ku sendiri. 

Aku sempat berpikir untuk menjadi seorang biku saja, petapa yang pekerjaan fokus pada praktik-praktik Dhamma saja. Namun demikian, aku teringat berbagai biku yang tindakannya tidak selaras Vinaya, dan aku takut dengan pikiran bahwa bisa saja aku jadi seperti mererka jika aku tetap insist. Di sisi lain, aku juga sadar berbagai kecenderunganku atas nafsu-nafsu indrawi. Di sisi lainnya lagi, aku juga sadar diri atas kerumitan kitab suci. Aku sadar diri bahwa semuanya pun rumit, meskipun menjalani hidup sebagai sesuatu yang terasa sebagai peaceful.

Takut kegagalan

Ketika sidang kemarin, aku dinasihati banyak oleh para penguji, dan tentu pembimbingku sendiri. Aku malu setengah mati. Singkat cerita, aku lupa bahwa tenggat waktu submit adalah pukul 16:00 satu hari sebelum sidang. Aku baru submit sekian jam sebelum sidang berlangsung, dan berkasku tidak dapat dibuka saat itu. Nilaiku pun dikurangi. Kemudian, aku mendapat berbagai nasihat yang pada intinya mengerucut pada persoalan Disiplin. Aku malu setengah mati. Bahkan permintaan maaf dan diamku tidak terasa cukup untuk menutupi rasa malu itu. Tugas Akhir-ku mencakup pembahasan mengenai kitab-kitab buddhis, dengan pelatihan model kecerdasan buatan tertentu dan seterusnya, yang pada intinya terkait dengan Kanon Pali juga. Bagian pertama dari Kanon Pali adalah Keranjang Disiplin, Vinayapiṭaka, yang isinya sangat menekankan kedisiplinan. Aku merasa tertampar berkali-kali. Aku sangat tidak disiplin. Aku malu dengan "diri"-ku sendiri di masa lalu. Mereka juga mengingatkanku bahwa setidaknya dikerjakan saja, meskipun belum dianggap sempurna. Seiring menua, ucap mereka, justru kesempurnaan yang kita cari-cari terkadang tidak akan pernah bisa tercapai, yang malah membuat kita jadi tidak bisa fokus mengerjakan yang "kecil-kecil", seperti pemberkasan dan lain-lain.

Sebetulnya ini lucu. Poin utama dalam ajaran Buddha adalah bahwa setiap manusia perlu mengusahakan kesempurnaan, dan kurasa pandangan ini begitu mendarah daging sehingga aku merasa fatigue. Mungkin inilah yang mereka bilang sebagai spiritual bypassing, istilah yang bahkan dipopulerkan oleh seorang buddhis. Dosen pembimbingku juga mengingatkan bahwa, oleh karena yang kukerjakan terkait kitab suci, tidak ada yang sempurna selain Tuhan. Namun demikian, dari dalam lubuk hatiku, aku mengernyit, Dalam pahamku, Buddhisme berpandangan yang sebaliknya. Justru pengejaran kesempurnaan sebagai manusia lah yang ditekankan, dan Buddha menolak pandangan Kemahakuasaan yang demikian, mengingat Sang Buddha Gotama sendiri juga merupakan seorang manusia. Saat itu, aku tetap terdiam, dalam rasa bersalahku.

Aku teringat bahwa rasa takut akan ketidaksempurnaan, akan "kegagalan", ini mengakar di batinku sejak lama. Aku merespons sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapanku sebagai kesalahanku, dan pandangan demikian sungguh menyiksa diriku sendiri. Aku merasa bahwa aku telah memahami Dhamma, tetapi pada faktanya aku tidak benar-benar menjalankannya secara menyeluruh. Mengejar kesempurnaan dalam arti Nibbāna bukan berarti kesempurnaan itu dapat datang begitu saja. Perlu ada faktor-faktor yang mendukungnya, dan faktor-faktor tersebut perlu dikondisikan sedemikian rupa, tidak tiba-tiba serta-merta dapat hadir begitu saja. Aku mengharapkan kesempurnaan, tapi aku lupa akan kondisi-kondisi penyerta, yang meliputi system requirements, constraint waktu, pemahaman asaliku, dan seterusnya. Aku juga melupakan ajaran anattā yang fundamental, sebagaimana diuraikan dalam percakapan ikonik dalam Anattalakkhaṇa Sutta. Bahwa aku tidak benar-benar bisa mengatur semua-muanya jika sebab-sebabnya sudah kadung terkondisikan. Aku memang punya kendali atas perbuatan berkehendakku, tetapi dalam constraint kondisi-kondisi yang sudah berlangsung.

Dengan demikian, ketika gagal, bukankah seharusnya disadari apa-adanya, bahwa aku gagal karena kondisi-kondisinya terpenuhi? Bahwa memang layak gagal, dan kemudian mencoba lagi dengan penyesuaian kondisi-kondisi yang diperlukan? Bukankah that's the whole point of Buddhism? Kemunculan Bersebab? Paṭiccasamuppāda? Ya sudah! Beranikanlah cari kerja, transisi ke masa bekerja!

Sakit fisik, sakit batin

Dalam hal anattā, aku juga sadar betul bahwa apa-apa yang menjadi kecenderunganku saat ini juga berakar pada fakta-fakta genetisku. Aku mewarisi baris-baris DNA dari ayah ibukku, dan aku juga sering mengobservasi traits mereka. Sudah bukan barang baru bagiku, yang gemar membaca buku-buku terkait behavioral genetics dan evolutionary psychology. Aku tahu bahwa aku mewarisi sifat-sifat yang mendasari kecenderunganku untuk merespons hal-hal dengan cara yang lebih stresful, if not depressive. Aku sering merasa bahwa aku menyerupai ibu dan ayahku sendiri dalam beberapa hal, apalagi ketika aku sedang mengobservasi mereka secara langsung. Namun demikian, kecenderungan tersebut telah kusadari, dan di sinilah seharusnya wisdom appears. Aku sudah berhasil melewati tahap pertama: to see the possible problemm(s), to see the possible causes. Selanjutnya, seharusnya aku tinggal perlu melakukan beberapa "tricks" agar possible causes tersebut tidak benar-benar menghasilkan keluaran yang tidak kukehendaki. Ini tidak mudah, kurasa. Rasanya seperti ... melawan "nasib"-ku sendiri, sesuatu yang secara alamiah telah diturunkan sesuai hukumnya, yang dalam hal ini merujuk pada hukum hereditas. Lagii-lagi, aku perlu bermain-main dengan probabilitas, kemungkinan outcomes, dan seterusnya. Melelahkan, tapi ya that's just how the world works? Dan, ya, menggunakan the so-called concept of "karmic-law" sebagai mekanisme koping atas kecenderungan-kecenderunganku yang eksis saat ini juga cukup membantu memang, meskipun secara empiris tidak bisa benar-benar dibuktikan. Maksudnya? Aku bisa saja memaknai ini semua sebagai "buah karma buruk," bahwa aku cenderung anxious dan depressive, meskipun aku tidak bisa benar-benar tahu. Again, in the quest of the accinteyya.

Terlebih, aku juga sesekali merasakan sakit fisik. Pun demikian, kisah tentang dua panah sebagaimana dalam Salla Sutta juga berhasil aku jadikan mekanisme koping. Jika itu masih terasa kurang, aku juga terkadang menggunakan perenungan atas kehadiran faktor-faktor mental terkait, yang tentu didasarkan pada tradisi tafsir Abhidhamma Theravāda, bahwa citta yang terkait perasaan domanassa sebagai buah karma tidak lantas perlu diikuti dengan citta aktif berbuat yang akusala. Dua hal yang terpisah antara penderitaan batiniah yang sudah terlanjur eksis, dengan caraku merespons lebih lanjut. Mengapa aku terus memanah diriku dua kali berturut-turut, ketika satu panah saja sudah menyiksa?

Berpisah dengan anu anu

Bagian ini separuh rahasia. Aku juga ragu untuk memilih kota tujuanku bekerja karena faktor terkait ini, yang tidak bisa benar-benar kuceritakan di sini. Aku simpan dalam catatan pribadi.

Penutup

Sekarang sudah 00:40. Aku sudah harus tidur karena jam 9 nanti ada kegiatan. Semoga setelah atau bahkan sebelum kegiatan tersebut, aku kembali fungsional. Semoga aku kuat membersihkan kamarku sendiri sembari packing barang mengingat bulan ini adalah bulan terakhirku menyewa kamar ini. Ada banyak hal yang perlu kuurus, termasuk tiket pulang, pengiriman barang, pembelian hotel untuk wisuda dua bulan lagi, dan lain-lain. Semoga aku tabah dan segera bisa melampaui masa transisi ini. Semoga semua bahagia, termasuk aku.
read this more